Dua Tahun Kiprah Program IMBAU untuk Rimbang Baling

Bentang alam Rimbang Baling merupakan kawasan strategis di bagian barat daya Provinsi Riau dan sebagian wilayahnya mencakup Provinsi Sumatra Barat. Bentang alam ini merupakan daerah penting karena selain sebagai daerah tangkapan air utama di tengah Sumatera, kawasan ini juga menjadi tempat hidup beragam jenis satwa dan tumbuhan langka, serta menjadi habitat ­ penting harimau Sumatera. Bagian inti dari kawasan ini adalah Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB) dengan luas lebih dari 140.000 ha.  SMBRBB diawali penunjukannya oleh Gubernur Riau dan selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Kehutanan, dan dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Riau sebagai Unit Pengelola Teknis Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ironisnya, hingga tahun 2010an, kawasan ini belum mendapat perhatian yang memadai untuk pelestarian dan pengelolaanya. Ini terbukti dari sedikitnya perhatian dan sumberdaya yang dialokasikan untuk perlindungan dan pengelolaan kawasan tersebut. Hingga tahun 2010, hanya dua petugas jagawana yang bekerja penuh waktu khusus untuk kawasan yang lebih luas dari Singapura ini.

WWF telah mulai melakukan kegiatan di kawasan ini sejak tahun 2004. Kegiatan awal terfokus pada survey keberadaan, sebaran, dan ekologi harimau dan mangsanya. Pada saat bersamaan, melihat kebutuhan yang ada, tim perlindungan harimau juga mulai dibentuk dan diaktifkan melalui kerjasama dengan BKSDA Riau.  Dari kedua kegiatan tersebut, di satu sisi mulai terungkap adanya beragam ancaman yang mengintai dan mulai menggerogoti sebagian kawasan ini. Bentuk ancaman tersebut antara lain pembalakan liar, pertambangan batubara dan emas, konversi hutan menjadi perkebunan, serta perluasan kawasan budidaya.  Namun di sisi lain, tim juga menemukan banyak potensi satwa, keindahan alam serta budaya dan kearifan tradisi masyarakat yang berpotensi dikembangkan dan dijadikan contoh dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Program IMBAU

Pada tahun 2015, IUCN (Badan Konservasi Dunia) dan KWF (Bank Pembangunan Jerman) membuka kesempatan pendanaan konservasi habitat harimau yang terintegrasi. Skema pendanaan tersebut merupakan wujud dari dukungan pemerintah Jerman terhadap upaya pemulihan populasi harimau global, sebagai tindak lanjut Pertemuan Puncak Harimau (Tiger Summit) di Rusia tahun 2010. Saat itu, pimpinan dari seluruh negara pemilik harimau yang hadir menyepakati untuk memulihkan populasi dan habitat harimau global dan Indonesia termasuk di dalamnya.

WWF telah menjadikan Rimbang Baling, salah satu habitat harimau Sumatera, sebagai salah satu bentang alam prioritas global sejak tahun 2012. Sehingga pendanaan ini merupakan kesempatan yang baik untuk meningkatkan kinerja dalam mendukung pemerintah Indonesia mengelola SMBRBB. WWF menggandeng YAPEKA dan INDECON sebagai anggota konsorsium dan mitra strategis yang dapat melengkapi kapasitas yang dibutuhkan untuk mencapai target program ini. YAPEKA merupakan lembaga yang sangat berpengalaman dan kompeten dalam pengembangan masyarakat dan matapencaharian berkelanjutan untuk mendukung konservasi alam; sedangkan INDECON telah dikenal kiprahnya di berbagai sudut nusantara dan kapasitasnya dalam pengembangan ekowisata yang diakui dunia. Konsorsium dan program tersebut kemudian disebut IMBAU.

Program IMBAU bertujuan untuk mendukung upaya peningkatan efektivitas pengelolaan populasi dan habitat harimau oleh otoritas dengan mengutamakan keterlibatan dan dukungan multi-pihak, melalui tiga komponen, yakni perlindungan terintegrasi dan monitoring, pengelolaan kawasan yang lebih efektif, dan pelibatan serta pemberdayaan stakeholder melalui pendekatan co-benefitMasing-masing komponen yang dilakukan  tersebut saling berkaitan dan terintegrasi, sehingga peran serta masyarakat di sekitar kawasan dan pemerintah sangat ditekankan untuk mendukung kegiatan ini. Salah satu tantangan dari pelaksanaan program ini adalah menjaga integrasi dari masing-masing komponen tersebut. Hal itu tidak mudah dilakukan, khususnya bagi anggota tim yang dituntut fokus pada kegiatan yang dikawal, dan bagi sebagian masyarakat yang masih mengalami kesulitan untuk memahami proses yang terkadang memerlukan waktu lama serta dalam skala yang luas.

Capaian Program

­Capaian komponen perlindungan terintegrasi dan monitoring diantaranya yaitu keberhasilan melakukan pendekatan persuasif kepada beberapa “perambah” dan pemburu harimau untuk menghentikan kegiatan yang dapat mengancam harimau dan kawasan hutan SMBRBB. Hasilnya, sudah ada tiga tokoh masyarakat yang bersedia menyerahkan lahan di dalam kawasan SMBRBB yang sempat dikelolanya, dengan total seluas 58 ha. Sementara itu, tiga orang pemburu telah berhasil disadarkan untuk dengan sukarela menghentikan kegiatannya yang illegal dan dapat diancam pidana. Selain kepada masyarakat pedesaan di dalam kawasan SMBRBB, program penyadartahuan juga telah dilakukan terhadap masyarakat di pinggiran kawasan, di Ibukota propinsi, di Jakarta, hingga di sosial media yang dilakukan melalui beragam platform. Kemudian sejak enam bulan ini tengah dilakukan pemantauan populasi harimau dan mangsanya secara intensif. Seluruh kawasan SMBRBB yang berpotensi dihuni harimau telah dipasangi kamera trap yang akan dipastikan untuk tetap beroperasi selama setahun penuh. Ada lebih dari 350 unit kamera yang disiapkan untuk mendukung program ini.  Hasil sementara dari program ini adalah tersedianya baseline/tolak ukur populasi harimau untuk kawasan ini. Diharapkan, kegiatan monitoring intensif akan menghasilkan pemutakhiran data mengenai populasi harimau, serta pemahaman yang lebih mendalam tentang ekologi harimau, mangsa, dan beragam kekayaan hayati di dalamnya.

Dari komponen Pengelolaan Efektif, Program IMBAU mendukung pihak otoritas dalam pengusulan Rimbang Baling untuk dikelola dengan skema Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK).  Dukungan itu kemudian dilanjutkan dengan pemastian operasionalisasi KPHK melalui penyusunan Rencana Blok (RB) dan Rencana Pengelolaan (RP). Bahan-bahan studi yang didukung Program IMBAU, baik yang langsung dilakukan oleh tim maupun oleh mahasiswa, dosen ataupun peneliti dari kampus dan lembaga riset, dijadikan bahan masukan penting dalam penyusunan RB dan RP. Progam IMBAU juga mendukung penuh proses konsultasi RB dan RP ke berbagai pihak, termasuk Konsultasi Publik atas draft RB dan RB yang dilakukan pada Bulan Juni 2017.

­Pada Komponen Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kebijakan, tim YAPEKA dan INDECON telah bekerja secara sistematis dan tekun di lapangan; mulai dari memahami persoalan dan potensi, dan bersama-sama mengajak masyarakat setempat untuk mengembangkan berbagai potensi matapencaharian berkelanjutan yang ramah lingkungan serta ekowisata.  untuk mendukung kegiatan kemandirian pangan dan energi, maka beberapa......... demplot, baik untuk energi terbarukan seperti biogas, dan pertanian organik memanfaatkan pekarangan telah dibangun bersama dengan masyarakat di wilayah yang dianggap strategis. Sementara itu, pada pengembangan potensi wisata, telah mulai menyusun  rencana pengelolaan ekowisata dan meningkatkan  kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi ekowisata tersebut.

­­Setelah hampir program IMBAU berjalan 2 tahun, masih banyak rencana kegiatan yang dilakukan, sehingga diperlukan komitmen dari tim IMBAU, masyarakat setempat, pemerintah, penyandang dana, mitra kerja dan dukungan berbagai pihak akan sangat menentukan keberhasilan mencapai kondisi yang diharapkan di Rimbang Baling: kelestarian harimau dan ­ kekayaan hayati yang turut mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

 

(Teks: Sunarto-WWF/ Editor: Salmah & Rudi)

 

Comments are closed.

Translate »