Melestarikan Dzikir Bano kearifan lokal masyarakat Kampar

Masyarakat menggunakan cara-cara tersendiri untuk mengelola alam dan lingkungan tempat tinggalnya. Melalui kebiasaan-kebiasaan itu kemudian membentuk dengan apa yang disebut dengan kearifan lokal, melaui kepercayaan dan sistem religi yang dianut bertujuan untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal secara arif dan bijaksana. Hal ini dapat dijadikan pedoman dalam membina keanekaragaman tradisi, prilaku, agama dan lingkungannya. Tidak terlepasa dari adanya pegangan hidup untuk menjalin kehidupan, baik secara individu maupun berjama’ah.

Melaui program Imbau tim awarenes berinisiatif menggerakkan kembali kegiatan tradisi Dzikir Bano, sebagai potensi sumberdaya kearifan lokal yang dimiliki. Pada tanggal 10 Mei 2018 di Desa Tanjung Belit, Kampar, Kiri Hulu, pelaksanaan kegiatan pembacaan (shalawat) Dzikir Bano. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan 2 kali dalam satu bulan, dengan diikuti 28 anggota. Dzikir Bano sendiri merupakan kegiatan pembacaan kitab bertuliskan Arab dengan cara di lantunkan (membaca dengan dilagukan).

Meski anggota banyak merasa kesulitan dalam pembacaan, karena memang harus dengan cara dilagukan dan penambahan-penambahan kalimat, tetapi justeru anggota tambah semangat untuk belajar. Kemauan dan kerjasama masyarakat Desa Tanjung Belit sangat diharap dalam mengembangkan tradisi Dzikir Bano ini, dikarenakan memang Dzikir Bano sudah tidak ada lagi yang melakukannya, baik di Desa Tanjung Belit maupun di Desa-desa lainnya. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan mampu seabagai pemelihara hubungan sosial, terutama dalam proses kehidupan yang lebih baik secara pribadi maupun bermasyarakat.

No Comments Yet.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »